Asal Nama Barabai
Pada
awalnya daerah yang disebut dengan Barabai sekarang ini merupakan
sebuah perkampungan yang dulu disebut dengan Kampung Qadi. Barabai
sendiri merupakan nama administrasi yang diberikan oleh pemerintah
Belanda untuk menyebut daerah Onderafdeling Batang Alai. Penamaan ini
tidak terlepas dari keberadaan sungai yang melintasinya.
Daerah
aliran sungai di sebelah hilir Pajukungan, yaitu daerah Durian Gantang
dikenal dengan nama Tabat Baru. Hal ini karena Pangeran Singa Terbang
dari Amuntai (Hulu Sungai Utara) pada waktu dulu pernah memerintahkan
untuk menutup atau memagar daerah ini dengan menabar aliran sungai yang
mengalir disini, yaitu pada saat daerah Tanjung dan Hulu Sungai Utara
jatuh ketangan Belanda setelah pecahnya Perang Banjar. Oleh karena
itulah untuk mengamankan Barabai (belum bernama Barabai), sungai yang
mengalir di daerah Durian Gantang atau tepatnya Asam Hurang yang
aliranya airnya terus ke Sungai Nagara ini ditabat secara beramai-ramai
oleh masyarakat. Kemudian pohon-pohon kayu ditebang untuk memberikan
halangan bagi Belanda untuk menguasai daerah ini.
Pohon-pohon
dan semak-semak yang dimasukan kedalam sungai tadi dalam bahasa
Banjarnya disebut “Raba”. Dengan sendirinya perahu-perahu serdadu
Belanda yang terdampar diraba-raba tersebut dan mereka tidak dapa
meneruskan perjalanannya karena terhalang oleh timbunan raba. Pada saat
inla para penduduk mengambil kesempatan untuk menyergap dan menyerang
serdadu-serdadu Belanda, sekaligus untuk mengambil senjaa mereka untuk
digunakan pada pencegatan yang akan datang. Dalam hal ini pihak Belanda
mengakui bahwa pasukan rakyat mempunyai keahlian dalam bertempur di air
dan di sungai.
Dalam
keadaa terjebak oleh halangan dan rintangan inilah, pihak Belanda
sering mendengar suara “Ba-Ra-Ba-Ai”, yang dimaksudnya banyak raba. Asal
perkataan itu pihak Belanda menafsirkan dengan nama lokasi dimana
tempat mereka terjebak. Isitilah ini yang mereka tuliskan dalam laporan
yang dibeikan. Itulah sebabnya maka sampai sekarang menjadi kota
Barabai.Kota
Pemerintahan dan Perekonomian
Setelah mengeluarkan pernyataan penghapusan Kerajaan Banjarmasin pada
11 Juni 1860 pemerintah Hindia Belanda memasukan Kerajaan Banjar dalam
wilayah yang kita kenal dengan Zuider en Oosterafdeling van Borneo.
Pada tahun berikutnya dilakukan pengembangan unsur pamong praja dan
pengadilan negeri yang tadi hanya ada di Banjarmasin sampai ke Hulu
Sungai.
Pertumbuhan kampung dan kota. Belanda membangun jalan raya dari
Banjarmasin melalui Martapura ke Hulu Sungai sampai ke Ampah Muara Uya.
Untuk menjaga keamanan militer dan kontrol, penduduk dikumpulkan dan
rumah-rumah dibangun disepanjang jalan tepi jalan. Hal ini melahirkan
jenis desa baru yang rumahnya berbaris menghadap jalan, yang sebelumnya
bertebaran. Pada persimpangan yang strategis dibuat benteng-benteng
pengawasan wilayah. Maka muncul kota-kota baru seperti Binuang, Rantau,
Kandangan, Barabai, Tanjung, Pleihari, dan sebagainya.
Menurut Staatblaad tahun 1898 no.178 daerah ini menjadi salah satu
onderafdeeling di dalam Afdeeling Kendangan yaitu Onderafdeeling Batang
Alai en Labooan Amas terdiri atas: Distrik Batang dan Distrik Labuan
Amas.
Distrik Batang Alai dipimpin oleh seorang kepala distrik yang disebut
districhoofd yaitu Kiai Duwahit (1899) dan Kiai Demang Yuda Negara. Suku
Banjar yang mendiami wilayah ini disebut dengan Orang Alai dan Suku
Dayak Meratus yang mendiami wilayah ini disebut dengan Dayak Atiran,
Dayak Labuhan, dan Dayak Kiyu. Distrik ini beribukota di Barabai.
Distrik Labuan Amas dikepalai oleh Tomonggong Kerta Joeda Negara (1899), beribukota di Pantai Hambawang.
Barabai merupakan ibu kota dari kabupaten HST. Kota ini memiliki julukan “ParisvanBorneo.”
Barabai merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan di HST. Kota ini
memiliki daya tarik secara ekonomi dan sosial terhadap daerah lainya
yang menjadi penopang kota ini.
Secara ekonomi, Barabai merupakan kota generatif yaitu kota yang
menjalankan berbagai fungsi, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk
wilayah belakangnya sehingga bersifat saling mengembangkan. Barabai
menyerap/memasarkan produksi dan memenui kebutuhan wilayah belakang
(Robinson Tarigan, 2009: 161).
Barabai memegang peran sentral untuk melakukan distribusi barang dan
jasa untuk daerah sekitarnya ini ditunjukan dari adanya dua pasar grosir
yaitu Pasar Lama dan Pasar Baru.
Pusat perkantoran Pemda HST terpusat disini, walaupun banyak
perkantorannya yang tersebar diluar kota. Banyaknya jumlah pegawai baik
dari sektor pemerintah, swasta dan sektor informal lainnya juga
mendorong besarnya volume perdagangan dikota ini.
Barabai sebagai pusat perdagangan juga ditunjukan dengan adanya 2 pasar
terbesar di HST yang dikenal dengan Pasar Murakata (selanjutnya disebut
Pasar Lama) dan Pasar Keramat. Kedua pasar sudah terdifrensiasi, Pasar
Murakata didesain sebagai pusat perbelanjaan modern sementara Pasar
Keramat di desain sebagai pusat perbelanjaan tradisional/semi modern.
Barabai merupakan sebuah kota tua yang ada di HST, kota yang merupakan
ibukota dari distrik Batang Alai dan Pantai Hambawang yang merupakan
ibukota dari distrik Labuan Amas. Dua Distrik ini kemudian membentuk
Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan memisahkan diri dari HSS pada 1956.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar